Bukan Arsitektur ARM, Bukan Juga x86. Inilah Irtysh Buatan Rusia-China.

Banner Ad 728×90
Advertisement
Dunia hardware kembali menghadirkan kejutan tak terduga melalui kemunculan prosesor bernama Irtysh, sebuah chip hasil kolaborasi teknologi Rusia dan China yang kini mulai diuji untuk kebutuhan gaming. Dalam pengujian terbaru, prosesor ini dipasangkan dengan GPU Radeon RX 9060 XT untuk menjalankan game populer The Witcher 3, dan hasilnya langsung memicu perhatian karena performanya jauh dari ekspektasi.
Dalam skenario tersebut, sistem hanya mampu menghasilkan frame rate di kisaran 22 hingga 38 FPS, tergantung pada pengaturan grafis yang digunakan. Pada setting ultra, performa berada di sekitar 22 sampai 32 FPS, sementara pada setting rendah meningkat menjadi 25 hingga 38 FPS. Angka ini menunjukkan bahwa meskipun GPU yang digunakan cukup modern, performa keseluruhan tetap tertahan oleh kemampuan prosesor.

Irtysh sendiri bukan prosesor biasa. Chip ini menggunakan arsitektur LoongArch yang dikembangkan oleh perusahaan China, Loongson, dan kemudian diadaptasi oleh perusahaan Rusia sebagai bagian dari upaya membangun kemandirian teknologi akibat sanksi yang membatasi akses terhadap CPU berbasis x86 dari Intel dan AMD. Dengan konfigurasi hingga 32 core pada varian C632, secara teori spesifikasi ini terlihat sangat menjanjikan. Namun dalam praktiknya, performa gaming masih tertinggal cukup jauh dari prosesor mainstream.

Salah satu penyebab utama keterbatasan performa ini terletak pada kompatibilitas software. Karena tidak mendukung sistem operasi berbasis x86 seperti Windows, prosesor Irtysh harus mengandalkan Linux serta berbagai lapisan translasi seperti Proton atau Wine untuk menjalankan game. Setiap lapisan tambahan ini memberikan beban ekstra yang berdampak langsung pada penurunan performa.
Adanya Bottleneck
Menariknya, penggunaan GPU Radeon RX 9060 XT yang sebenarnya mampu menghasilkan lebih dari 100 FPS pada kondisi optimal justru tidak mampu menunjukkan potensi maksimalnya. Hal ini mempertegas bahwa bottleneck berasal dari sisi CPU, bukan GPU. Dengan kata lain, kombinasi hardware yang terlihat kuat di atas kertas belum tentu menghasilkan performa yang seimbang di dunia nyata.
Fenomena ini membuka perspektif baru tentang pentingnya ekosistem, bukan sekadar spesifikasi. Dalam dunia gaming modern, performa tidak hanya ditentukan oleh jumlah core atau clock speed, tetapi juga oleh kompatibilitas software dan optimalisasi sistem secara keseluruhan.
Video:
In-Article Ad
Advertisement
Komentar (0)
Login untuk berkomentar
LoginBelum ada komentar. Jadilah yang pertama!
Jangan Ketinggalan Berita Terbaru!
Dapatkan berita teknologi dan review gadget terbaru langsung di email Anda setiap minggu.



